Monday, 6 January 2014

Personal Desire

Tiap peluk bantal or guling, ingatan gue langsung melayang pada kenangan indah bersama bantal bermerk Sunflower yang gue peluk waktu nginep di sebuah hotel di kawasan wisata Baturaden, namanya Hotel Rosenda, dan sebuh hotel di kawasan Lembang, yang nama hotelnya gue gak inget.
Itu bantal tebel tapi empuuuuk bangettt.. Ya Allah pokoknya nyaman banget deh.. Semacam love at the first hug deh. Hahaha
Nah, bagi siapa aja yang tau di mana bias gue dapatkan bantal tersebut, tolong donk gue dikasih tau. Mau bangettttt.... hehehe

Wednesday, 1 January 2014

NEW YEAR STORY



Sebenernya udah tidur tadi tuh jam 10-an. Tiba-tiba terbangun kaget dengan suara ‘dar der dor’ dari segala penjuru. Sempet bengong dulu di kasur; ada perang apaan nih?! Sepersekian detik kemudian baru sadar, well.. OK.. 2014 has come.
 
Meriahnya langit Jakarta semalam.  Cuma suaranya itu lhooo... >.<
Gambar diperoleh dari sini

Resolusi? Ngg.. dari dulu-dulu juga ga pernah secara spesial menyiapkan daftar resolusi di setiap penghujung tahun. Cenderung ngalir aja sih. Nope! It does not mean that I never set up any dream. I do have dreams. Tapi yaa gitu.. ngalir aja… Jalani hidup sesuai dengan prinsip yang dipegang. Berusaha untuk menjadi orang baik. Mungkin kali ini dengan sedikit tambahan –sebagai hikmah dari membaca novel 99 Cahaya di Langit Eropa- yaitu menjadi a good moslem agent *cling!*

Hidup yang mengalir, menurut pendapat Mausaurus, bukan hidup yang pasrah dibawa tiupan angin peradaban. Bukan pula pasrah terhanyut ombak kegilaan dunia. Mewarnai, bukan terwarnai, kecuali kalau warnanya makin membuat dunia menjadi cerah ceria. Atau kalau tidak bisa memberi warna cerah ceria, setidaknya berusaha untuk tidak memperkelam suasana lah. 

Ada yang spesial di malam tahun baru ini? Di berbagai tempat, seperti biasa, riuh dengan suara petasan dan nyala kembang api. Kata teman yang berhasil menikmati momen tersebut sih langit indah menyala warna warni. Kalo Mau mah di rumah sajah. Sempet ada sedikit rame-rame di depan rumah sih. Bapak-bapak dan ibu-ibu sekitar rumah bakar ikan rame-rame. Kebetulan lokasinya di teras rumah. Berkah punya rumah pas perempatan gang, di mana salah satu sisi perempatan ditutup permanen sehingga ga bisa dilalui kendaraan bermotor, yaa begini. Kalo ada rame-rame ngumpul jadi ketempatan. Hehehe :D

Acara bebakaran hanya sampai sekitar jam 10an. Makanya tadi jam 10an Mau udah tidur. Ga nunggu pukul 00.00?? Siapa juga yang sengaja bebakaran dalam rangka nungguin ganti tahun? Kan ga ditungguin juga berganti sendiri tahunnya. Hehe

Nah, sekarang, udah kebangun, trus ngapain? Iseng cek HP, buka Fb, dan menemukan postingan Kang Mahardhika Zifana yang menulis seperti ini:

“Ilmiah saja. Tahun baru solar yang benar itu setiap 1 Maret. Makanya ada nama bulan September (literal, artinya bulan tujuh), Oktober (bulan delapan), dan Desember (bulan sepuluh, deca=10). Lagian itu itungan 2014 darimana coba darangnya? Coba yang kritis-kritis, apa itu maksudnya?”

Eh, iya ya? Septa kan tujuh, tapi September jadi bulan Sembilan. Okta itu delapan, tapi Oktober jadi bulan sepuluh. Deca sama dengan sepuluh, tapi Desember jadi bulan duabelas. Tiba-tiba ngerasa bodoh karena baru ngeh hal begini. Biasanya Mau cenderung pemerhati ‘asal kata’. Tiba-tiba merasa jadi ga gaul juga karena ngerasa ga ngerti hal yang mungkin sudah diketahui oleh jutaan orang lain di bumi ini.

Kemudian Mau ikuti pembahasan topik di postingan tersebut. Kang Mahardhika Zifana ini sendiri Mau kenal pertama kali pas iseng beli novel karangan beliau yang berjudul Magus. Novel yang menurut Mau bagus dan seru. Mirip-mirip novelnya Dan Brown lah. Kental nuansa sejarah. Maka mengikuti diskusi di postingan yang tadi Mau kutip di atas rasanya bisa menjadi sumber pengetahuan buat Mau.

Jadi, sebagaimana namanya, kalender Masehi, yang menggunakan hitungan peredaran matahari, dihitung berdasarkan kelahiran Al Masih (‘alaihissalam). Kang Mahardhika menyebutkan bahwa dua injil dalam alkitab (injil lukas dan matius) mencatat bahwa kelahiran Isa Al Masih terjadi pada masa pemerintahan Raja Herod di Palestina (10 sampai 43 Tahun Julian –Tahun Julius Caesar). Ini berarti Isa Al Masih dilahirkan antara tahun 37 SM dan 4 SM. Kalau mau konsisten dari tarikh al masih, maka seharusnya sekarang itu tahun 2018. Adalah Dionisius Exiguus, seorang pejabat tinggi kepausan Roma yang diserahi tugas menyusun kalender gereja, yang menetapkan perhitungan tahun Anno Domini berdasarkan dugaannya bahwa Isa Al Masih lahir 526 tahun sebelum saat itu.
Lalu kenapa 1 Januari? Kenapa bukan 25 Desember saja? Itu pertanyaan konyol Mau yang kemudian dijawab bahwa hal tersebut dilakukan agar masih dekat hitungannya dengan 25 Desember, hari yang diyakini oleh kaum nasrani sebagai hari lahir Isa Al Masih. Dan yang namanya permulaan pasti dari 1, bukan dari 25.

Sumpah, sebenernya Mausaurus roaming. Ada yang punya tambahan info? Belajar bareng yuk!



Ditulis di Bekasi, 01-01-2014 pukul 02:15 am.

Friday, 27 December 2013

MY PREMARITAL CHECK UP



Hello hello… My special hello for all capeng (calon pengantin) yang budiman. Hohoho
Tulisan ini sengaja didedikasikan bagi para capeng yang lagi butuh info tentang premarital check up karena Mausaurus juga sempet kesulitan cari info tentang ini kemarin-kemarin. Dapet sih info, tapi kurang update. Semoga bermanfaat ^^
Ilustrasi diambil dari sini

Apa sih premarital check up itu?
Premarital artinya sebelum menikah. Jadi, premarital check up adalah pemeriksaan kondisi tubuh sebelum seseorang menikah. Penting? Yaaa… penting ga penting sih.. Ibaratnya pemeriksaan ini adalah peringatan BMKG sebelum terjadi tsunami. Kam kalo qt dpt warning lebih awal kita bisa bersiap dan cari perlindungan lebih awal. Hehehe..

Maksudnya gini, dari premarital check up ini akan diperoleh informasi mengenai kondisi kesehatan kita. Kenapa ga general check up aja? Beda tujuannya.. Premarital check up ini (ini sebenernya menurut pendapat Mausaurus pribadi) lebih terkait dengan kondisi kita, baik secara fisik, fisiologis, maupun genetis sebagai persiapan berkeluarga. Apa hubungannya? Kalo berkeluarga pengen punya anak, kan? Pengen anak-keturunannya sehat cerdas ceria, kan? Pasti iya donk.. But wait, pemeriksaan ini bukan membuat keturunan kita terjamin sehat cerdas cerianya lho.. namanya juga pemeriksaan. Informasi yang diperoleh dari pemeriksaan ini lah yang akan menjadi persiapan berharga. Misal,dari pemeriksaan diketahui bahwa si A punya resiko diabetes karena ayahnya diabetes. Lalu calon pasangannya, si B, juga kakeknya ada yang diabetes. Jadi mereka memiliki faktor resiko untuk memiliki keturunan yang mengidap diabetes juga. Lah trus gimana? Putus? Eh, bukan begitu.. Kalo sampe putus berarti cintanya ga tulus tuh. Sebaliknya, dari informasi tersebut harusnya dipikirkan solusinya gimana nih supaya punya anak yang sehat cerdas ceria? Misalnya dengan mengatur pola makan dan pola jajan si anak sejak kecil, dst..

Contoh lain adalah misalnya dari pemeriksaan diketahui bahwa CPW (calon pengantin wanita) positif terinfeksi Toxoplasma. Nah, kalo sudah tau begini maka bias diberikan pengobatan yang tepat pada si CPW. Jika diperlukan mungkin akan disarankan juga untuk menunda kehamilan. Menurut Maupribadi, kondisi ini lebih baik daripada terlanjur hamil karena buru-buru pengen menimang bayi, eh ternyata terjadi komplikasi kehamilan yang bisa berefek pada janin maupun ibunya. Na’udzubillah kan yaa…

 
Gambar diperoleh dari sini


Apa aja yang diperiksa pada premarital check up?
Ini tergatung sama paket apa yang kamu ambil. Tiap klinik or rumah sakit or laboratorium biasanya menawarkan beberapa jenis paket. Makin lengkap paketnya yaaa makin mahal. Yaa iya laaah… Hehehe

Paket biasanya pasti terdiri dari pemeriksaan fisik. Tambahannya bisa jadi berupa pemeriksaan darah dan/atau urin, rontgen thorax (dada), USG, antibodi terhadap penyakit menular kelamin, antibody terharap TORCH (Toxo, Rubela, Citomegalovirus, dan HSV), antibodi terhadap hepatitis, buta warna, ECG. Sekali lagi, ini tergantung sama penyedia layanannya. Jadi sebaiknya sebelum tes, survey-survey dulu aja deh.. Sesuaikan dengan kebutuhan dan kantong anda.

Itu tadi sekilas info aja mengenai premarital check up. Sekarang gue pengen cerita tentang pengalaman waktu gue premarital check up beberapa waktu lalu.

Kenapa pengen banget tes? Karena pernah ambil mata kuliah yang bikin parno terhadap komplikasi kehamilan akibat TORCH dan merasa memiliki faktor resiko tinggi terinfeksi kuman-kuman nakal itu, terutama Toxoplasma. Sedikit info aja bahwa Toxoplasma adalah Protozoa yang bisa menginfeksi manusia melalui kontak dengan kotoran kucing dan makan daging yang tidak dimasak dengan baik. Nah, gue kan sukanya makan daging yang masih empuk-empuk kenyal gitu.. Trus di sekitar gue juga banyak kucing kampung yang suka beraktifitas semaunya di rumah. Eh tapi to be noted ya bahwa belum tentu semua kucing tu bawa si Toxo itu lho, maksudnya gue cuma tidak pengen memfitnah seluruh kucing di dunia ini. Tapi karena gue parno makanya yaaa periksa deh. Hehe

Jadi memang sebenernya pengen ngelakuin premarital check up ini dengan tujuan utam cek TORCH-nya. Akhirnya survey pun dilakukan. Point utamanya adalah dapat info ttg premarital check up yang ada pemeriksaan TORCHnya atau tes TORCHnya saja. Ini menyangkut soal biaya nih.. soalnya ga ada asuransi yang menanggung. Setelah survey sana sini melalui internet, tanya temen, telepon ke penyedia layanan tes tersebut, gue merasa bahwa opsi kegiatan survey yang terakhir  disebut adalah yang paling efektif. Soalnya memang belum banyak orang yang sadar untuk melakukan pemeriksaan ini.

Berikut ini hasil survey Mausaurus (area Jakarta-Bekasi aja tapi ya). Bagi yang hendak menggunakan hasil survey ini, gue saranin untuk recheck ke penyedia layanannya. Soalnya waktu telepon gue nyatet sekenanya, dan mengingat bahwa gue ini pelupa, jadi Mausaurus ga menjamin informasi yang gue berikan ini shahih 100%. Hehehe

RS Mitra Keluarga Bekasi Timur --> Rp. 2.347.000 (lupa paketnya apa aja)
RS Hermina Bekasi --> Rp. 2.380.000 (lupa paketnya apa aja)
RS Hermina Galaxy --> Rp. 2.935.000 (cek darah, urin, kons obsgyn, EKG, ginjal, TORCH)
Prodia -->    Rp. 1.770.000 (darah rutin, darah tepi, HBS Ag, TORC IgG)
                    Rp. 883.000 (biaya tambahan untuk cek IgM TORC)
                    Rp. 1.604.000 (pemeriksaan TORCH saja)
CITO -->  Rp. 1.670.000 (Paket Tulip; darah, urin, glukosa darah puasa dan tidak puasa, VDRL, 
                 HBS Ag, golongan darah, TORC)
Parahita --> Rp. 1.900.000 (kalo ga salah untuk TORCH saja, gue lupa)
RSIA Tambak --> Rp.1500.000 (TORCH IgG dan IgM)

List di atas seingat Mausaurus adalah untuk pemeriksaan yang wanita saja. Kalo yang sepasang:
RSIA Tambak --> Rp. 2.060.000 (darah lengkap, urin, kons dokter umum, kons obsgyn, TORCH, HBS Ag, buta warna, fisik, USG)

My premarital check up

Jadi, berdasarkan hasil survey, maka diputuskanlah untuk periksa di RSIA Tambak. Tadinya mau TORCH saja, tapi berhubung honor baru turun maka sekalian lah ambil paket lengkap yang 2 jeti itu. Setelah bikin janji berkali-kali karena gue cancel terus, akhirnya berangkat lah gue ke RSIA tersebut seorang diri. Sampai di sana ditanyain “lho, calonnya mana mba?”. Bengong donk.. Sambil mesem-mesem. Karena gue periksa itu pun tanpa bilang-bilang calon suami, atas alasan yang tidak bisa gue sampaikan di sini. Si mbak di meja pendaftaran bilang, “Sayang mba, ini paketnya buat sepasang lho?” Hee?? Iya ya?? Rupanya gue ga teliti bertanya saat berburu informasi via telepon. Akhirnya atas bujukannya si mbaknya itu, mas calon suami gue telpon. Tapi ya karena ga bisa ninggalin kerjaan akhirnya hari itu dia ga bisa nyusul ke sana. Si mbaknya di RSIA Tambak ini baik tapinya, mau menunggu si mas cami nyusul diperiksa kapan aja asal sehari sebelumnya konfirmasi dulu. Jadi lah hari itu akhirnya gue ceritakan rencana ini ke si mas cami (ini beneran jangan dicontoh, sebaiknya buat kesepakatan bersama dulu sebelum periksa). Dan akhirnya gue menjalani pemeriksaan sendiri aja.

Para perawat dan dokter di RSIA Tambak baik dan ramah. Pelayanannya juga OK. Apalagi gue kebetulan dateng pagi saat itu. Jam 8an udah sampe RS. Ternyata kalo masih sepagi itu pasiennya masih sedikit. Klo datengnya sekitar jam 10 yaa siap-siap agak lama aja antrinya.

Oleh seorang perawat, gue dianter ke UGD. Di situ ketemu sama dokter umum, namanya dr. Husein. Dibantu oleh 2 orang perawat wanita, gue ditanyain ini itu soal riwayat kesehatan gue dan keluarga. Lalu dites minus mata dan buta warna. Ada juga pemeriksaan payudara, dengan ibu suster tentu saja, sekaligus diajarkan self-check untuk deteksi dini kanker payudara. Dokter juga menawarkan apakah mau dipeiksa duburnya. Gue pikir karena udah bayar yaa sekalian aja. Sekali lagi, ini yang periksa adalah si ibu suster juga. Hehehe

Dari UGD, gue diantar ke laboratorium oleh salah seorang perawat. Ibu ini sebenernya sempet kelihatan ragu mau bawa gue ke Lab dulu apa ke dokter obsgyn dulu. Entah atas pertimbangan apa akhirnya gue ke lab dulu. Diambil darah dan diberi wadah plastik untuk menampung urin. Setelah memberikan sampel yang diminta, gue diantar oleh perawat yang tadi ke bagian radiologi. Ini nih yang beberapa jam kemudian bikin kesel. Mungkin salah gue sendiri sih ga teliti baca paket pemeriksaan dan manut aja sama perawatnya, lah gue pikir kan mereka paham. Ternyata pemeriksaan rontgen thorax itu tidak ada di paket, pemirsah.. dan gue pun dikenakan biaya tambahan sebesar Rp.150.000,- untuk hal tersebut. Bete kan? Minta juga nggak kok. Sempet merasa semacam dijebak gitu sih. Tapi atas dasar pikiran waras bahwa rezeki ga tertukar maka setelah protes secukupnya di kasir, gue bayar juga dah  tuh.

Setelah dari radiologi gue digiring ke ruang dokter obsgyn. Gue gatau sebenernya bisa milih apa ga dokternya, tapi hari itu gue dibawanya ke dr. Priyo. Dokternya masih terbilang muda, ramah, dan sangat welcome untuk memberikan penjelasan. Oleh beliau gue ditanya lagi calonnya mana? Heuh…

Nah ini nih yang lucu, pas baru pasang posisi tiduran untuk di-USG sang dokter bertanya “udah pipis belom?” dan dengan polos gue jawab “udah dok, kan barusan abis diambil sampelnya untuk tes urin”. Dan ternyata harusnya gue tu ke obsgyn dulu untuk USG baru ke lab. Kalo kantung kemih dalam keadaan kosong katanya akan sulit membedakannya dengan rahim. Ya mana gue tau.. Kan baru sekali itu ke obsgyn untuk USG rahim. Eh sebenernya sih udah pernah sekali waktu USG liver dulu pas gue gatau kenapa sering mual-mual, and sekali pas pre-premarital check up di Hermina Galaxy (dateng iseng abis jenguk temen yg baru lahiran di sana. Niatnya cari info aja, eh disuruh USG sekalian). Tapi kan gue lupaa...

Akhirnya sang dokter memerintahkan gue untuk balik turun ke lantai satu, lalu minum sekitar 1 liter. Ada gallon air di deket lab tempat periksa darah dan urin tadi. Setengah jam lagi atau kalo sudah merasa mau pipis baru balik ke situ untuk di-USG. Gue pikir, duh gawat, ga suka minum langsung banyak begituh. Biasanya kalo minum hanya segelas kecil, lalu minum lagi nanti setelah jeda minimal 15 menit. Ini disuruh minum 1 liter air dalam waktu setengah jam. Tapi yaa akhirnya terpaksa sih..
Hasilnya sekitar setengah jam setelah itu gue memang merasa  pengen pipis. Berangkat lah gue ke lantai 2 tempat sang dokter praktek. Celakanya saat itu ternyata sedang ada pasien di dalam. Adudududuh… gimana nih? Lama kelamaan hasrat ingin buang air kecilnya semakin memuncak. Tapi mau pipis takut nanti disuruh minum air 1 liter lagi. Tapi akhirnya karena dilanda kebelet yang amat sangat, gue capcus ke toilet. Sialnya, begitu balik dari toilet, pasien sang dokter yang tadi lagi di dalam baru saja keluar. Sambil mesem-mesem gue bilang “maap dok, kebelet, jadi barusan pipis deh”. Kirain dokternya bakalan marah. Ternyata beliau malah tertawa dan berkata “ya ampun maaf ya mba, pasti kebelet banget tadi. Ya udah kita coba aja siapa tau kantung tadi belom kosong semua kantung kemihnya”. Dan Alhamdulillah, ternyata memang masih berisi air kantung kemihnya. Iya lah.. minum seliter yang dibuang baru beberapa cc aja kok. Hehe

Saat USG itu dokter menjelaskan posisi rahim dan ovarium gue. Rahim sih normal dan posisinya bagus menghadap ke depan (gue kurang ngerti nih maksudnya gimana atau apakah ada orang yang rahimnya menghadap kanan/kiri/belakang), namun di ovarium kiri gue terlihat ada suatu massa berukuran 2cm yang diduga adalah kista. Baru dugaan dan katanya untuk lebih jelasnya harus dengan USG transvaginal, tapi nanti saja kalo sudah menikah. Sebenernya gue udah dapet infi dan saran yg sama waktu USG di Hermina Galaxy. Agak stres dikit soal si massa itu. Tapi dokternya menenangkan dengan berkata bahwa itu baru dugaan dan bisa saja salah. Selain itu kalo siklus haidnya masih teratur tiap bulan ‘dapet’ maka ga usah terlalu khawatir. Dan bisa jadi itu kista tidak menguasai seluruh bagian ovarium kiri gue, jadi si ovarium kiri masih dapat memproduksi sel telur. Pun jika ovarium kiri rusak, masih ada ovarium kanan. Jadi untuk kehamilan masih besar peluangnya. Huhuhu.. mohon doanya ya pemirsa…

Dengan berakhirnya sesi dengan dr. Priyo, maka berakhir pula susunan acara premarital check up gue di RSIA Tambak. Hasilnya jadi sekitar seminggu setelah itu. Tapi baru sempet gue ambil sekitar 3 minggu setelahnya. Hehe :p

Oh ya, yang bikin ketawa dikala mengenang prosesi premarital check up gue adalah betapa besernya gue setelah itu. Di RSIA tambak saja total gue pipis 6x. Belum lagi di toko jilbab Rabbani Rawamangun. Karena setelah dari Tambak gue ke Rawamangun naik bajaj yang getarannya aduhai, sampe di sana langsung kebelet pipis. Selama di sana 3x pipis. Itu lah kalo ga biasa minum langsung sekaligus banyak tapi dipaksa minum bertubi-tubi (aih bahasanya..).

Ilustrasi kebelet pipis ^^. Gambar diperoleh dari sini

Silakan para pemirsa ambil pelajaran dan hikmah yang baik-baik saja ya dari cerita Mausaurus yang ternyata panjang ini. Hehehe

Salam,

Bekasi, 27 Desember 2013 00:49